Dalam hadits Al Mujtaba SAW kurang lebih juga bersabda: tak henti-hentinya anak-cucu Adam itu terkena cobaan selama ia berbuat dosa, sedangkan selagi nyawa dikandung badan, anak-cucu Adam itu takkan pernah luput dari perbuatan dosa. Malah, setiap muslim itu tiap harinya pasti terkena bencana atau cobaan, biarpun kecil, seperti kena duri atau sedikit pusing. Hadits-hadits tersebut banyak dikutip banyak kitab hadits, termasuk Riyadlus Salihin.
Diantara bencana dan cobaan yang paling sering ditemui adalah sakit. Al Mughits SAW menjelaskan, sakit sehari bagi orang beriman itu menghapus dosa satu tahun. Diterangkan juga bahwa ada dosa tertentu yang tak bisa dihapus dengan cara apapun selain harus ditebus dengan sakit. Di dalam kitab Ihya Ulumiddin dilaporkan, ada seorang wali (kekasih Allah) yang hobinya sakit. Kalau sembuh, berdoa minta sakit lagi. Ketika ditanya bukankah sakit itu tidak enak/menyenangkan, maka jawabnya: dengan sakit dosa langsung berkurang dan pahala terus bertambah.
Meskipun begitu, Nabi SAW memberikan contoh, bila sakit beliau berobat kepada tabib (dokter) dengan cara-cara yang masuk akal/rasional. Kalau beliau mau, cukup berdoa minta sembuh kepadaNya, pastilah dikabulkan. Tapi, beliau menghendaki berkembangnya ilmu kedokteran yang ilmiah. Beliau SAW juga menganjurkan kita selalu menjaga kesehatan dan mencegah penyakit semaksimal mungkin.
Jadi, bila lagi sakit, tak usahlah bersedih. Sabar, nikmati bahkan kalau bisa disyukuri sembari berobat ke dokter dan banyak bersedekah. Nabi SAW kurang lebih pernah berpesan: Songsonglah masa depan (dengan berbagai kemungkinannya) dengan banyak berdoa, cegahlah bencana dengan sedekah, lalu berserah-dirilah (tawakal) kepadaNya di setiap peristiwa.
(KH. Muhammad Fuad Riyadi)